Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Januari 2019

Mendikbud Tawari Guru Honorer Menjadi P3K



GTK - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membuka lowongan calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2018. Bagi tenaga honorer maupun tenaga pendidik yang belum lolos masih bisa mendaftar Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). 


"Setelah cek rekrutmen CPNS nanti akan segera rekrutmen melalui P3K, Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja," kata Muhadjir di sela-sela peringatan Hari Guru Nasional di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Minggu (25/11/2018).



Dia pun menjelaskan bahwa Kemendikbud akan menyesuaikan gaji P3K agar sama dengan PNS.



"Jadi nanti yang P3K itu gajinya sama dengan yang PNS," katanya.



Lebih lanjut dia juga mengatakan, bagi yang tidak lolos dalam seleksi keduanya, yaitu CPNS dan P3K, ada guru honorer sebagai guru pengganti untuk guru yang pensiun (guru pengganti pensiun), juga akan mendapat tunjangan minimal setara dengan upah minimum regional (UMR).



"Kemudian, bagi yang belum berhasil lolos di CPNS maupun P3K itu untuk guru-guru pengganti pensiun itu akan mendapatkan tunjangan setara dengan upah minimum regional," jelasnya.



Sementara itu, terkait dengan nasib para guru honorer, sebelumnya Muhadjir mengatakan Kemendikbud juga sedang mencarikan jalan keluar terkait dengan hambatan regulasi bagi guru honorer untuk bisa menjadi aparat pegawai sipil negara. 



Menurutnya, Kemendikbud kini sedang berupaya mencarikan jalan agar para guru pengganti pensiun mendapatkan perlakuan terhormat sebagai seorang guru.



Hingga saat ini, pihak Kemendikbud masih mendata ulang guru honorer dan data UMR di tiap-tiap daerah. Dia berharap nantinya ada kesepakatan mengenai guru yang termasuk ke kategori guru honorer.



"Ini ada kesepakatan juga oleh pak Dirjen, jadi Pak Dirjen aja yang tahu (spesifikasi guru honorer). Ya seperti yang saya bilang, jika ada guru yang mengajar satu mata pelajaran seminggu dan tidak pernah berada di sekolah terus-menerus, dan setelah mengajar pergi dan mengerjakan pekerjaan lain, maka ia bukan guru honorer," terangnya.


Sumber :
https://gtk.kemdikbud.go.id/read-news/mendikbud-tawari-guru-honorer-menjadi-p3k

Rabu, 23 Januari 2019

Integrasikan Dapodik dengan Data Kependudukan, Mendikbud Ubah NISN dengan NIK



Jakarta, Kemendikbud --- Menindaklanjuti kerjasama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahyo Kumolo tentang Pemanfaatan Nomor Induk Kependudukan (NIK), Data Kependudukan dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Elektronik dalam lingkup tugas Kemendikbud pada 10 November 2016 lalu, Kemendikbud akan mengintegrasikan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dengan Data Kependudukan dan Catatan Sipil di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada tahun 2019.

“Hari ini kita memastikan bahwa MoU itu berjalan di lapangan dan yang paling penting pada hari ini ada kesepakatan bahwa nanti untuk seluruh siswa itu tidak lagi memakai Nomor Induk Siswa Nasional tapi pakai Nomor Induk Kependudukan, cukup dijadikan satu”, disampaikan Mendikbud kepada awak media usai pertemuan dengan Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil, Kemendagri, Zudan Arif Fakrullah, di Kantor Kemendikbud, Jakarta (22/01/2019).


Tujuan diintegrasikannya Dapodik dengan NIK, dijelaskan Mendikbud, kedua data ini dapat dimanfaatkan untuk sistem zonasi terutama pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). “Dulu orang tua datang ke sekolah untuk mendaftarkan anaknya. Nanti kita harapkan dengan dukungan dari aparat Kemendagri, justru sekolah lah bersama aparat desa dan aparat kelurahan mendata anak ini masuk ke sekolah mana, didata oleh pemerintah terutama untuk masuk sekolah negeri”, ujarnya.


Untuk teknisnya, Mendikbud menjelaskan tahun ini sudah tidak ada lagi siswa yang memiliki nomor induk siswa nasional dan akan menggantinya dengan NIK berdasarkan profil keluarga siswa yang terdata di sekolah. “Mereka kan sudah ada di sekolah-sekolah. Tinggal mengecek dia termasuk di daerah mana? tinggal dimana?keluarganya siapa? Saya kira secara teknis tidak ada kesulitan hanya memang kita perlu penyepadanan data”, jelas Mendikbud.


Senada dengan itu, Dirjen Dukcapil Kemendagri mengungkapkan sepenuhnya akan mengikuti sistem yang dibangun oleh Kemendikbud, termasuk data kependidikan siswa dengan berbasis data kependudukan.


“Dengan NIK itu ketika dicari datanya dalam data kependudukan langsung akan diketahui. Dia sekolah di mana? Tinggal di mana? Sekarang kelas berapa? Kalau nanti dia putus sekolah di kelas 5, nanti bisa ngecek putus sekolah karena apa? kalau gak punya biaya, bisa diurus beasiswanya, baik itu beasiswa dari APBN maupun APBD”, ungkap Zudan. Zudan menambahkan pemerintah bisa memastikan wajib belajar 12 tahun dapat terselesaikan karena data siswanya bisa dilacak dan di tracking dengan berbasis data kependudukan.

Selain itu, Zudan menambahkan manfaat dari terintegrasinya dapodik dengan data kependudukan adalah untuk melakukan updating data kependudukan bagi peserta didik atau penduduk yang sampai saat ini belum terdata dalam data kependudukan. “Ini kita dapat umpan balik, ini bagus dalam rangka membangun ekosistem kependudukan berbasis pendidikan. Kita bisa bolak balik, sistem pendidikan berbasis data kependudukan, bisa juga data kependudukan dibangun dengan ekosistem dari dunia pendidikan. Ini ada timbal balik yang saling menguntungkan dalam penyelenggaraan pemerintah”, ujarnya.

Jakarta, 22 Januari 2019
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Sumber : Siaran Pers BKLM, Nomor: 016/A5.3/Sipres/I/2019

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/01/integrasikan-dapodik-dengan-data-kependudukan-mendikbud-ubah-nisn-dengan-nik

Sabtu, 19 Januari 2019

Tari Kolosal Sekolah Indonesia Riyadh Pukau Masyarakat Arab


Riyadh, Kemendikbud --- Pertunjukan kolosal dari siswa/siswi Sekolah Indonesia Riyadh (SIR) menjadi puncak acara penutupan di panggung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan Festival Janadriyah ke-33 di Riyadh, Arab Saudi. Sebanyak 75 pelajar SIR mempersembahkan sebuah sendratari luar biasa dan mendapatkan sambutan meriah dari pengunjung Festival Janadriyah. Mereka menampilkan sendratari kolosal yang menggabungkan kesenian rakyat Tari Badui dari Sleman, dan Tari Angguk Kipas yang dikombinasikan dengan tari kreasi baru.


Sendratari kolosal atau Colosal Dance Folklore tersebut diberi judul "Merah Putihku Indonesia". Pergelaran seni berdurasi 13 menit itu menceritakan penyebaran agama Islam di Indonesia yang menyebar melalui kesenian dan budaya. Ragam tari dan warna-warni kostum serta atribut dalam pergelaran kolosal menggambarkan keragaman atau kebinekaan budaya yang bersatu di bawah nama Indonesia. Seniman Yogyakarta, Wisnu Aji Setyo Wicaksono, ditunjuk menjadi koreografer, dengan asisten koreografer Endra Wijaya dan Bramantyo Fendi Prastowo, serta penata musik Sulistiyono.

Salah satu warga Arab Saudi, Abdulaziz M Shabib, memuji penampilan anak-anak Indonesia yang tampil dalam pertunjukan seni di Festival Janadriyah. “Anak-anak yang nari bagus banget dan rapi. Saya salut lihat tarian anak-anak Indonesia seperti itu,” ujarnya. Festival Janadriyah ke-33 di Riyadh berlangsung pada 20 Desember 2018 hingga 9 Januari 2019. Berdasarkan dekrit Raja Salman, Indonesia dipilih sebagai tamu kehormatan dalam festival budaya terbesar di Arab Saudi itu.
Koreografer sendratari kolosal, Wisnu Aji menuturkan, para siswa/siswi Sekolah Indonesia Riyadh mampu tampil luar biasa meski persiapan mereka sangat singkat, yakni hanya tiga kali latihan. “Saya tiba di Riyadh saat anak-anak masih ujian sekolah. Ujian sampai tanggal 13 Desember, lalu tanggal 14 mau latihan di KBRI Riyadh tapi hujan deras. Akhirnya cuma kenalan dan presentasi gerakan tarinya seperti apa. Padahal tanggal 18 sudah harus geladi resik. Jadi tanggal 15 sampai 17 itu sudah harus selesai semua latihan. Tanggal 19 di lokasi Janadriyah sudah clear area karena pembukaannya tanggal 20 dan dihadiri Raja Salman,” tutur Wisnu jelang malam penutupan Festival Janadriyah ke-33 di Riyadh, Rabu (9/1/2019).
Pergelaran kolosal "Merah Putihku Indonesia" dari 75 pelajar SIR ditutup secara spektakuler dengan membentangkan sebuah kain besar berwarna merah dan putih di atas panggung, dan bendera merah putih yang dikibarkan sebagai latar panggung. Tepuk tangan riuh pun membahana di area panggung Indonesia di Festival Janadriyah. Malam penutupan itu merupakan penampilan mereka yang ketiga kali. Sebelumnya mereka tampil satu kali di acara pembukaan Festival Janadriyah, dan dua kali saat malam tahun baru di panggung Paviliun Indonesia serta Paviliun Arab Saudi di Festival Janadriyah.
Perjuangan Wisnu dan tim, serta kerja keras anak-anak Sekolah Indonesia Riyadh membuahkan hasil. Mereka berhasil tampil memukau dan menorehkan kesan mendalam bagi para pengunjung Festival Janadriyah. Ke-75 anak itu pun tak menyangka mereka akan ditangani langsung oleh seniman profesional selama persiapan Festival Janadriyah.
“Tiba2 dikasih tahu katanya ada seniman langsung yang ngelatih. Kaget tuh. Terus datang Pak Wisnu. Ngelatih awal-awal kirain bakal asyik-asyik aja, eh ternyata susah dan bikin kita kesel karena gerakannya susah. Cuma lama-kelamaan jadi terbiasa, jadi malah lebih seru dan menyenangkan,” tutur Al Farrel Eleazar Javier Fawwaz, siswa kelas III SMA Sekolah Indonesia Riyadh.
Farrel juga mengungkapkan kebahagiaannya bisa tampil di Festival Janadriyah dan mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Arab Saudi. “Bahagia banget! Tahun kemarin kita pernah jadi tamu, tapi bukan guest of honour. Nah, sekarang jadi tamu kebesarannya Arab Saudi. Bikin saya bahagia banget. Nggak semuanya bisa tampil di Janadriyah, atau tampil di depan penduduk asing,” katanya.
Hal senada juga diungkapkan Syifa Hayatina, siswi kelas VIII SMP Sekolah Indonesia Riyadh. “Rasanya menyenangkan banget bisa berpartisipasi dalam acara Janadriyah ini. Asyik. Bahagia banget soalnya yang ngajarin nari langsung seniman dari Indonesia, sudah profesional. Saya bangga banget bisa bisa mengenalkan budaya Indonesia di negara lain,” tuturnya.
Wisnu pun mengaku cukup keras dalam melatih anak-anak untuk menampilkan pergelaran kolosal. Sejak awal ia sudah meminta anak-anak agar bersedia bekerja keras selama latihan, dan tidak banyak bercanda. “Jadi saya kondisikan ada target. Latihan setiap hari selama tiga hari, dari jam 9 pagi sampai jam setengah 9 malam,” katanya.  
Di Indonesia, ia sudah membuat konsep sendratari kolosal yang dimatangkan kembali saat tiba di Arab Saudi. Ia juga membawa semua kostum, atribut, dan perlengkapan panggung langsung dari Indonesia. Bahkan, khusus untuk pertunjukan di malam penutupan, Wisnu menambahkan sebuah tarian baru, yakni Chakil Fusion untuk anak laki-laki, dan menambah gerakan baru, yakni salto untuk anak perempuan.
“Saya juga nggak habis pikir. Anak-anak ini terbukti bisa, melebihi ekspektasi saya. Ternyata anak-anak Sekolah Indonesia Riyadh ini cerdas. Mereka juga gampang koordinasi, diatur gampang, komunikasi lancar, dan sangat welcome, jadi chemistry-nya dapat. Dari awal datang saya langsung klik. Enjoy,” tutur Wisnu.
Usai pertunjukan, Wisnu naik ke panggung dan menyalami satu persatu ke-75 anak didiknya yang telah tampil luar biasa di Festival Janadriyah. Sebagian anak bahkan menyalaminya sambil menangis. Mereka merasa kehilangan karena maestro tari mereka telah menyelesaikan tugasnya dan akan kembali ke Tanah Air. (Desliana Maulipaksi)


Sumber :
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/01/tari-kolosal-sekolah-indonesia-riyadh-pukau-masyarakat-arab

Kegiatan Class Meeting


Civitas akademika Sekolah Indonesia Riyadh, baru-baru ini telah melaksanakan Kegiatan Class Meeting, yang diselengarakan dari tanggal 15 sd. 17 Januari 2018 bertempat di Kampus Sekolah Indonesia Riyadh.
Class Meeting merupakan kegiatan sekolah yang mempertemukan antar kelas dalam berbagai pertandingan dan perlombaan. Kegiatan classmeeting akan membawa manfaat luar biasa bagi siswa.
Adapun manfaatnya antara lain:
1.Mempererat tali silaturrahmi antar sesama siswa.
2.Menjadi ajang menambah keakraban antara siswa di sekolah
3.Mengendorkan saraf yang tegang seusai ujian semester.
4.Menyalurkan bakat dan minat siswa dalam berbagai bidang kegiatan.
5.Melatih mental bersaing dan sportifitas dalam perlombaan dan pertandingan.
Kegiatan classmeeting di sekolah perlu mendapat dukungan pihak sekolah dan orang tua karena bermanfaat untuk perkembangan fisik maupun mental anak